Minggu, 20 Agustus 2017

Kelas Inspirasi Boyolali Session 2 : Mematik Cita, Sehebat Singa

Perjalanan bukan lagi sekedar membentangkan peta dan mencari tahu cara mencapainya [Javasiesta 17/17 : Indri Juwono]

Perjalanan kali ini, memang sesuai planning mencoba daftar recruitment relawan inspirator Kelas Inspirasi Boyolali session 2, tidak berharap muluk-muluk kecuali lulus dan bisa berbagi dengan adik-adik di Boyolali.

Berselang beberapa bulan setelah mendaftar dan akhirnya mendapat email undangan untuk mengikuti briefing Kelas Inspirasi Boyolali session 2, bahagia rasanya. Melihat pengumuman Kelas Inspirasi Boyolali session 2 tenyata relawannya ada beberapa teman yang dari kelas inspirasi sebelumnya yang saya ikuti. Kelas Inspirasi memang menjadi candu bagi saya, disamping tak lupa untuk Back To School (BTS) setelah hari inspirasi.


Tiba di Boyolali tepat hari Jum’at, 28 Juli 2017 sebelum sholat Jum’at dimulai. Setelah perjalanan panjang saya dari Jogjakarta, janjian bersama rekan dari Bandung Candra namanya. Mulailah petualangan ini, mencari ilmu, rekan, makna perjalanan, berbagi dan saling bersilahtuhrahmi.

Mencapai Boyolali pun penuh cerita, menaiki Prameks dari Jogjakarta tepat pukul 07.12 dan tiba di Purwosari 08.22, lalu mencoba naik Batik Trans Solo sambil berdiskusi dengan Candra untuk sarapan di Pasar Gede dan kita berdua mencoba sarapan soto dan dawet telasih Bu Dermi, yang memang menjadi langgananku jika berkunjung ke kota ini. Untuk Candra ia baru pertama kali mencoba dawet telasih.

Setelah sarapan, perjalanan dilanjutkan naik Batik Trans Solo dan diberitahu kondektur bus, untuk naik bus Safari jurusan Semarang dan turun di Samsat Kabupaten Boyolali. Tak butuh waktu lama, kita berdua sudah turun dan disambut plang “Boyolali Tersenyum”. Selepas turun bus, sepi sekali tidak terlihat orang melintas, hendak kemana bertanya menuju Alun-Alun Kidul kota ini. Tapi saya dan Candra tetap nekad berjalan hingga bertemu sebuah minimarket berwarna biru untuk membeli minum dan bertanya lokasi briefing, alhamdulillah jawaban kasir tidak mengecewakan arah kita sudah benar tinggal beberapa saat lagi akan tiba di Pendopo.

Matahari cukup terik, kaosku mulai basah keringat maklum perjalanan hampir 2 minggu membuat ransel kesayanganku penuh dan berat. Candra beberapa kali menawarkan untuk membawa tasku, namun saya selalu menolaknya. Begitu tiba di Alun-alun Kidul saya dan Candra sempat berfoto, sebelum ke lokasi Briefing.

Tiba di lokasi Briefing saya disambut oleh Dini, Wulan, Mas Bagus dan Mas Danang. Sementara saya beristirahat menjaga tas dan berkenalan dengan rekan relawan lain, ada Kak Imam, Christy dan Mbak Cici, sementara Candra bersiap mandi untuk Sholat Jum’at.

Briefing dimulai pukul 13.30 dibuka perkenalan panitia lokal, fasilitator dan beberapa Kepala Sekolah dari beberapa SD Negeri. Kelas Inspirasi Boyolali session 2 akan dilaksanakan di 3 kecamatan yaitu Simo, Sambi dan Nogosari meliputi 15 sekolah dasar. Selesai Briefing dilanjutkan foto bersama bersama seluruh relawan di depan kantor Bupati Kabupaten Boyolali.



Sambil menunggu Mas Bagus sebagai koordinator dan fasil yang masih sibuk beres-beres selepas briefing, saya bersama Aviv, Firda, dan Kak Endang menikmati makan malam disebuah kafe tak jauh dari lokasi briefing.

Setelah makan malam perjalanan dilanjutkan menuju SD Negeri Senting 1, saya dibonceng Kak Endang, Firda dengan Aviv dan Mas Bagus sebagai penunjuk jalan. Perjalanan dengan motor menuju sekolah lebih kurang 1 jam, ditengah perjalanan kita masih menunggu Ali dan Vivian untuk bergabung bersama. Menuju SD kondisi jalan tidak stabil ada yang mulus, bergelombang dan masih tahap perbaikan, cuaca pun disini kemarau dan berdebu.

Sekitar pukul 20.00  tiba di SD Negeri Senting 1, Bapak Kepala Sekolah Pak Suyitno masih menunggu untuk bertemu di rumah kediaman Pak Padi yang lokasinya sekitar 200 meter dari sekolah. Kita pun sampai di rumah kerabat Pak Padi disambut begitu ramah dengan minuman hangat dan snack. Di mulai perkenalan, dan berbincang dengan Pak Suyitno tentang acara kelas Inspirasi esok, sementara saya dan rekan-rekan lain mempersiapkan beberapa aksesoris yang akan dipakai esok.

Malam sudah larut, Pak Suyitno pun pamit, Mas Bagus memonitor kegiatan kelas inspirasi di lokasi lain. Aviv kembali ke Boyolali dan Ali memilih menginap di tempat temannya. Tinggal kita berempat saya, Endang, Firda dan Vivian yang menginap. Saya izin duluan untuk tidur, lelah rasanya tubuh ini butuh istirahat. Sementara, Endang masih sibuk mengambar, good night...

Singkat cerita, alarm berdering tepat pukul 05.00 saya bangunkan Endang untuk menemani saya mandi di kediaman Pak Padi, maklum rumah ke lokasi mandi berjarak 50 meter lebih kurang dalam kondisi jalan gelap dan sepi. Selepas mandi siap-siap dan membawa semua perlengkapan ke sekolah untuk dipasang seperti spanduk, saya ke sekolah lebih dulu dibantu oleh Endang.




Kondisi sekolah masih sepi karena masih pukul 05.55 hanya tampak Pak Padi sedang menyapu, sementara saya izin untuk memasang spanduk, tak lama Vivian, Firda, Ali pun datang membantu. Disusul oleh Kak Maya yang baru tiba dari Jakarta, Aviv dari Boyolali dan Kak Wahyu dari Karanganyar, lengkap sudah tim SD Negeri Senting 1.

Pukul 07.00 waktu sudah menunjukkan, seluruh tim saling bahu-membahu membantu anak-anak untuk baris dibuka dengan sambutan dari Kepala Sekolah SD Negeri Senting 1, Bapak Suyitno lalu perkenalan seluruh relawan dan ice breaking serta senam penguin dipimpin oleh Vivian dan Firda. Selepas acara pembukaan dilanjutkan anak-anak masuk ke dalam kelas dengan kereta-keretaan dibantu oleh fasilitator.

Kelas inspirasi SD Negeri Senting 1 ini terbagi 3 rombongan belajar mengingat hanya ada 3 relawan inspirator yaitu saya, Endang dan Wahyu. Kelas 1-2 dijadikan satu, lalu kelas 3-4 dan kelas 5-6. Murid sekolah dasar disini jumlah totalnya 46 murid dari kelas 1 hingga kelas 6, sementara ketika hari inspirasi hanya ada 38 murid yang hadir sisanya izin tidak hadir di sekolah.









Kondisi sekolah ini lumayan bagus dan lengkap, hanya kurang dalam perawatan saja. Tersedia musolla, perpustakaan, enam ruang kelas, ruang guru, kamar mandi yang terletak dibelakang dekat dengan pepohonan, halaman sekolah dan tempat parkir sepeda dan motor. Letaknya persis dipinggir jalan tak jauh dari Waduk Cengklik dan dekat dengan pertanian warga.

Saya mendapat giliran jam pertama mengajar di kelas 3-4, lalu kelas 1-2 dan terakhir kelas 5-6 anak-anaknya inspiratif dan gak bisa diam semua ingin memainkan alat peraga yang saya bawa. Akhirnya saya mengumpulkan anak-anak dalam lingkaran untuk melihat beberapa cuplikan video karya beberapa teman saat saya melakukan perjalanan ke 6 provinsi di Indonesia. Menjadi travel blogger awalnya hanya hobby saja, pertama kali membuat blog di multifly tahun 2006 ketika pulang dari Tanzania selama 3 bulan menjadi relawan, sayang pikirku jika pengalaman disana tidak ditulis hehehe..:D, tapi bubarnya multifly membuat semua tulisan hilang tanpa sempat tersimpan. Beriringnya waktu dan bekerja di kantor yang cukup sibuk dengan pekerjaan menjadi lupa untuk menulis.

Tahun 2012 saya kembali menulis dalam blog sederhana tentang perjalanan saya ke beberapa tempat di Indonesia, dari sini saya mulai belajar. Mungkin dalam hal pengajaran anak-anak akan bingung dengan profesi ini, travel blogger adalah seseorang yang melakukan perjalanan, lalu menuliskan cerita tentang perjalanannya dalam sebuah blog. Untuk mempermudah dalam hal mengajar saya mengunakan metode penyampaian materi dengan strategi gambar visual seperti memutar video dan menunjukkan beberapa foto perjalanan agar anak-anak mudah memahami.

Teknis Pengajaran dalam kelas inspirasi :

a.       Bagaimana  Anak Belajar?
Siswa SD pada umumnya berada pada rentang usia 6-12 tahun, pada usia tersebut berada dalam tahap perkembangan kognitif yaitu berpikir tentang konsep-konsep yang nyata atau konkrit.
Oleh karena itu saya mengunakan teknik pengajaran dengan gambar, foto, video dan alat peraga boneka tangan bernama Piko.
b.      Durasi
Setiap rombongan belajar (rombel) diberi waktu selama satu hari belajar sesuai dengan standar waktu belajar di SD yaitu jam 07.00  s.d 12.00 wib. Tiap relawan pengajar mendapat waktu selama 40 menit.
c.       Struktur Pengajaran
Setiap relawan di setiap kelas diberi durasi 40 menit untuk mengajar terdiri dari opening 5 menit, pokok pengajaran 20-30 menit dan penutup 5 menit.
Inti konten pengajaran meliputi :

Siapakah aku?
Apa profesiku?
Apa yang dilakukan oleh profesiku setiap harinya pada saat bekerja?
Di mana aku bekerja?
Apa peran profesiku di masyarakat?
Bagaimana cara menjadi aku?

Selain itu relawan juga harus menyampaikan secara intens empat nilai pokok pengajaran yaitu : kejujuran, kerja keras, pantang menyerah, dan kemandirian.

Manfaat Kelas Inspirasi bagi relawan sebagai berikut :

a.       Memberikan pengalaman mengajar dan belajar di depan kelas sebagai bentuk kontribusi serta pengorbanan yang nyata terhadap perbaikan masa depan bangsa
b.      Membangun sensitivitas para relawan terhadap realitas kualitas pendidikan yang kontra dengan kemajuan kota besar
c.       Mengajak kaum professional untuk bersama-sama turun tangan menunaikan janji kemerdekaan : “mencerdaskan kehidupan bangsa”
d.      Mengaktivasi semangat voluntourism untuk mengatasi masalah disekitar kita tanpa harus menunggu orang lain terlebih dahulu dan tanpa menyalahkan pihak manapun.

Manfaat Kelas Inspirasi bagi sisawa SD :

a.       Memperluas wawasan mereka akan pilihan profesi yang bisa dijadikan cita-cita
b.      Memberikan Inspirasi untuk memiliki cita-cita setinggi mungkin
c.       Memberikan motivasi untuk terus melanjutkan pendidikan
d.      Menanamkana 4 (empat) nilai positif utama (kejujuran, kerja keras, pantang menyerah dan kemandirian) sebagai jalan untuk mewujudkan apa yang diimpikannya.
e.      Menyadarkan amat pentingnya sikap menghormati orang tua dan guru dalam upaya mewujudkan cita-cita dan mimpi tinggi mereka.

Bagi saya pribadi mengikuti kelas inspirasi Boyolali session 2 banyak mendapat inspirasi dari anak-anak serta relawan lain. Selepas mengajar di kelas 5-6. Saya memberi anak-anak kertas untuk menulis cita-cita yang akan digantungkan di pohon cita-cita.  Lalu keluar bersama dengan kereta-keretaan dan bernyanyi, dibantu oleh Firda untuk berbaris dihalaman sekolah  dan mengantungkan cita-cita. Satu persatu anak-anak menempelkan cita-citanya, tercapai cita-cita kalian semua anak-anakku, aminn.

Setelah semua anak-anak mengantungkan cita-cita dilanjutkan menerbangkan pesawat kertas dan foto bersama dengan anak-anak, seluruh relawan dan guru. Pengalaman hari ini memang luar biasa. Selepas foto bersama anak-anak di izinkan untuk pulang ke rumah masing-masing, sementara para relawan akan beramah tamah sebelum ke acara refleksi.



Acara ramah tamah dimulai dengan mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah atas izin dan keterbukaanya menerima para relawan. Dilanjut makan siang bersama yang sudah disediakan pihak sekolah dan berpamitan. Lalu menuju rumah kediaman Pak Padi untuk packing dan menuju ke UPT kecamatan Simo untuk refleksi. Begitu beres packing saya dan semua relawan mengucapkan terima kasih ke Pak Padi atas tumpangan yang diberikan.

Saya dibonceng oleh Endang menuju tempat refleksi, jaraknya tempuhnya sekitar lebih kurang 45 menit dari lokasi SD Negeri Senting 1, tiba di lokasi briefing panitia menyediakan es cincau dan nasi bancakan yang enak banget. Di lokasi briefing sudah ada beberapa rekan yang tiba lebih dulu. Setiap mengikuti Kelas Inspirasi  ada 3 hal penting yaitu Briefing, Hari Inspirasi dan Refleksi. Refleksi adalah sesi penutup dari rangkaian kegiatan Kelas Inspirasi Boyoali session 2. Pada sesi ini, relawan dapat membagikan apa yang dialami dan inspirasi apa yang diperoleh selama mengajar siswa SD. Sesi ini menjadi penting untuk dilakukan untuk tetap menjaga semangat dan antusiasme relawan dalam berkontribusi di dalam pendidikan di Indonesia. Terima kasih saya ucapkan pada seluruh relawan baik inspirator, dokumentasi (videographer, photographer), fasilitator dan panitia lokal serta pihak SD Negeri Senting 1 dan Pak Padi yang memberi tumpangan tempat tinggal. Mari kita wujudkan cita-cita anak-anak di Boyolali sesuai tagline mematik cita, sehebat singa. Terima kasih.







Minggu, 13 Agustus 2017

Kelas Inspirasi Magelang 3 : Anak Negeri Kaki Sumbing Berani Bersaing



Pertengahan bulan Juli merupakan hari yang sangat dinanti oleh saya dan beberapa rekan inspirator yang lulus recruitment Kelas Inspirasi Magelang session 3. Saya berangkat ke Magelang lebih awal satu hari sebelum hari Inspirasi yang jatuh pada hari Sabtu, 22 Juli 2017.

Selamat Datang di Alun - Alun  Magelang

Sebelum hari inspirasi, seluruh team berkumpul diacara briefing. Semua relawan inspirator, dokumentasi baik foto maupun video berkumpul dan berkenalan dengan fasilitator dan panitia lokal di acara ini. Saya mendapat lokasi SD Negeri Kalijoso, Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang berada tepat di kaki Gunung Sumbing.

Ketika berkumpul diacara briefing saya langsung berkenalan dengan beberapa panitia lokal seperti Kak Anggi Tenis, lalu Kak Fathim, Kak Yaksa itulah yang saya ingat, karena merekalah yang membantu beberapa persiapan demi kelancaran Hari Inspirasi di SD Negeri Kalijoso melalui virtual meeting dengan beberapa rekan relawan via grup whatssap.

Briefing Kelas Inspirasi Magelang 3 SD Negeri Kalijoso

Minggu, 30 Juli 2017

Peran dan Tugas Project Controller


Kalau biasanya menulis tentang perjalanan, kali ini saya ingin menulis tentang pengalaman dalam bidang pekerjaan. Suka banyak yang tanya, kerjaanya apa sih koq bisa jalan-jalan??, disinilah saya jelaskan, ngapain aja sih selama bekerja tuh peran dan tugasnya.
Project Controller adalah suatu pekerjaan dan profesi sangat menantang dan memiliki peluang karier sangat besar. Project Controller adalah satu-satunya posisi, di samping Site Manager atau Project Manager, yang memiliki pandangan menyeluruh terhadap suatu project. Dengan posisinya itu dia memiliki peluang besar untuk menjadi penasehat utama Site Manager atau Project Manager dalam mengendalikan proyek.




Menjadi Project Controller pada umumnya mulai terlibat sejak awal perencanaan suatu proyek. Dialah yang bertugas menyusun project schedule, manpower planing, equipment loading dan project budget bersama dengan project key person yang lain.
Pada saat eksekusi proyek berjalan, dialah yang berperan utama memasok informasi yang diperlukan untuk mengendalikan agar proyek tetap berjalan sesuai rencana. Oleh karena itu orang seringkali menyebutnya juga sebagai Project Planing & Control.
Pada saat proyek selesai, dia pula yang bertugas untuk menyusun project closing report. Laporan ini berisi tentang performance yang berhasil dicapai dibandingkan dengan planing yang dibuat sebelum proyek dimulai, beserta analisa-analisanya. Project closing report dimaksudkan untuk membuat historical database yang akan dimanfaatkan untuk menyusun perencanaan proyek baru di masa datang.

Peran dan tugas Project Planing & Controller sangat mungkin berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain. Perbedaan itu mungkin juga disebabkan oleh senioritas. Semakin senior pengalaman seseorang, biasanya rentang kewenangannya juga semakin luas.
Pertama kali bergabung dalam suatu proyek yaitu North Belut blok Natuna, saya hanya mendapatkan tugas untuk mengumpulkan data dan membuat project report untuk dikirimkan ke kantor pusat dan diserahkan kepada Client di lapangan. Pada akhir proyek yang berdurasi lebih dari tiga tahun tersebut saya sudah memahami dengan baik masalah reporting, progress claim, schedule control dan cost control. Sedikit-sedikit saya juga mulai mempelajari contract administration.
Dalam proyek ini saya mendapatkan pengalaman-pengalaman sangat berharga karena terlibat di dalamnya sejak tahap awal sekali (tahap perencanaan) hingga proyek selesai. Saya mendapat tugas untuk menyusun budget dan project planing.
Dalam setiap Project Control section memiliki tugas :

a.      Mengumpulkan data progress dari lapangan dan menghitung progress tiap-tiap section (WBS) maupun progress erection boiler secara keseluruhan.
b.      Mengajukan claim progress bulanan ke Client hingga mendapatkan approval. Claim progress yang sudah disetujui dijadikan dasar pengajuan pembayaran bulanan ke Client oleh Bagian Keuangan.
c.       Mengkoordinasikan pengendalian schedule dan progress progress, dengan cara memimpin Progress Review meeting yang diadakan satu minggu sekali. Progress Review meeting dihadiri oleh semua Chief Engineers.
d.      Turut menghadiri schedule meeting yang diselenggarakan main contractor seminggu sekali.
e.      Mensuplai data progress dan schedule ke Client yang akan dipergunakan Client untuk mengupdate project schedule dalam software Primavera.
f.        Mengkoordinasikan pengendalian biaya proyek agar tidak melebihi budget yang telah ditentukan. Setiap awal bulan Project Control section mengeluarkan laporan bulanan tentang performance masing-masing section (WBS). Dalam laporan tersebut tercantum progress yang dicapai dan biaya yang telah dihabiskan oleh masing-masing section. Performance report dibahas dalam sebuah performance meeting yang dipimpin oleh Project Control engineer.
g.      Mengajukan proposal incentive bulanan dan incentive milestone kepada Site Manager. Incentive ini diberikan kepada seluruh anggota project team berdasarkan performance yang dicapai oleh masing-masing section, baik progress maupun cost performance.
h.      Membuat laporan bulanan untuk kantor pusat dan laporan bulanan untuk Client.
i.        Menangani hal-hal yang berhubungan dengan contract administration. Tugas utama yang berhubungan dengan contract administration adalah mempersiapkan data-data untuk claim additional work. Project Control section juga memberikan masukan-masukan kepada Site Manager dalam masalah commercial yang berhubungan dengan pembagian tanggung jawab pekerjaan (scope of work) antara main contractor dan sub contractor. Agar dapat memberikan masukan yang benar, maka pemahaman yang benar terhadap contract agreement mutlak diperlukan.
j.        Membuat dokumentasi dalam bentuk photographi selama proyek berlangsung.
k.       Membuat project closing report. Project closing report ini mirip dengan laporan bulanan, hanya saja disertai dengan analisa-analisa terhadap performance yang dicapai dibandingkan dengan target yang ditetapkan dalam planing dan budget.
Demikian sedikit uraian tentang pekerjaan saya sehari-hari selain menulis. Terima kasih.





Selasa, 20 Juni 2017

Kampung Kuningan sebagai Peradaban Jejak Islam Jakarta


Siang hari yang terik terlihat dilayar handphone suhu Jakarta mencapai 33 derajat celcius, dengan ojek online saya menuju Museum Satria Mandala, Gatot Subroto sebagai meeting point Ngojak dan jam 14.00 wib sebagai jam kumpul. Ketika datang hanya saya dan Mas Pams saja sementara yang lain belum ada. Sambil menunggu kita pun mengambil gambar museum, yang menurut Mas Pams kesini 30 tahun yang lalu ketika masih balita, kebayang dunk udah lama banget hehe...:D
Penampakan Museum Satria Mandala
Foto : Ika Soewadji
Setelah berkumpul semua Mas Fiyan membuka Ngojak hari ini, diawali perkenalan masing-masing dan mulai penjelajahan di kawasan segitiga emas Jakarta, bersama Bang Reyhan sebagai narasumber, mari kita mulai sahabat pejalan. 

Mas Fiyan membuka acara Ngojak
Foto : Kang Ali Zaenal

Rekan-rekan Ngojak
Foto : Kang Ali Zaenal
Taukah kalian diantara gedung pencakar langit Mega Kuningan dan Gatot Subroto, menceritakan sebuah kisah masa lalu yang epiiik, "kenapa bernama Kuningan? dan kenapa saya bilang epiiik? ini jawabannya.."

Sabtu, 17-06-2017 saya mendapat semua jawaban. Ada masjid yang berada di dalam Museum Satria Mandala yang dibangun pada tahun 1527 bernama Masjid Al-Mubarok, masjid ini didirikan oleh Adipati Awangga atau Pangeran Kuningan. 

Penanda Masjid Al-Mubarok
Foto : Ika Soewadji
Dalam Masjid Al-Mubarok
Foto : Ika Soewadji
Ketika berdiam diri selepas sholat Ashar, saya seperti merasakan aura masa lampau bagaimana jejak Islam di kampung ini. Pada tanggal 22 Juni 1527 Pangeran Kuningan mengusir pasukan Portugis dari Indonesia di Sunda Kelapa bersama Falatehan, Adipati Keling dan Pangeran Cakrabuana. Kemenangan pasukan Demak Cirebon dengan keempat pasukan mengusir Portugis pada masa itu diproklamirkan sebagai hari jadi Jakarta. 

Ornamen Pintu dan Jendela Masjid Al-Mubarok
Foto : Ika Soewadji
Masjid Al-Mubarok ini merupakan masjid tertua di Jakarta, serta disinilah Pangeran Kuningan mendidik murid-muridnya menyiarkan agama Islam. Pangeran Kuningan juga dianggap sebagai proklamator Jayakarta pada masa itu, dalam hal ini beliau sebagai pendiri kota Jakarta yang kini menjadi tempat tinggal saya. Hal seperti inilah yang tidak banyak diketahui banyak orang, karena saat belajar sejarah di sekolah tidak ada cerita ini. Beliau juga merupakan penyebar agama Islam di Nusantara ini tak kalah dengan Wali Songo.

Bang Reyhan disalah satu makam
di kawasan Masjid Al-Mubarok
Selepas melihat Masjid Al Mubarok saya dan rekan-rekan  Ngopi (di) Jakarta atau Ngojak melanjutkan perjalanan menuju makam Pangeran Kuningan, yang berada tepat di Gedung Telkom Gatot Subroto. Pertama dapat info dari Mas Fiyan, "nanti jangan kaget yang lihat makamnya". Benar saja begitu sampai saya, izin ke pihak keamanan untuk melihat makam "Ada jawaban dari seorang satpam yang mengatakan, silahkan saya senang jika ada yang ziarah". Hmmmm...Saya lalu diantar seorang satpam, sambil melihat-lihat karena lokasinya membuat #miris berada dipojokan anak tangga gedung mewah tersimpan makam pejuang Jakarta pada masa itu, ditemani sisa-sisa puing bangunan dan sampah-sampah mengingat gedung dalam tahap renovasi. Saya haturkan doa dengan Al-Fatihah agar beliau selalu dilapangkan dalam kuburnya, amin YRA. 

Makam Pangeran Kuningan
Foto : Ika Soewadji
Kondisi Makam Pangeran Kuningan saat ini
Foto : Ika Soewadji
Bergabung dengan Ngojak membuat saya makin mencintai Jakarta dari sudut apapun, jika kita menelisik lebih dalam. Perjalanan masih dilanjut menapaki jejak peradaban Islam di kawasan segitiga emas Jakarta. Menikmati Jakarta sore hari sambil belajar itu memang punya kenikmatan tersendiri, apalagi disaat bulan Ramadhan. Sambil menanti buka puasa atau istilahnya #ngabuburit, memandang langit dan gedung pencakar langit, terlihat Masjid Baitul Mughni yang megah ditepian jalan Gatot Subroto. 

Kemegahan Masjid Baitul Mughni
Foto : Ika Soewadji
Begitu tiba di pelataran Masjid Baitul Mughni Mas Fiyan dan Bang Reyhan mulai menceritakan tentang masjid megah ini. Masjid Baitul Mughni merupakan wakaf dari Guru Mughni, ulama kondang Betawi sekitar tahun 1940-an. Dikalangan Betawi, ulama yang mengajarkan agama disebut sebagai guru. 

Masjid Baitul Mughni menempati area sekitar 6000-an meter persegi terdiri dari gedung Sekolah Islam Al-Mughni, Pusat Kajian Hadis, dan Al-Mughni Islamic Center. Abdul Mughni bin H. Sanusi bin Ayub bin Qoys atau yang lebih dikenal dengan Guru Mughni, lahir di Kuningan Jakarta, sekitar 1860 dari pasangan H. Sanusi bin Ayub dan Hj. Da'iyah binti Jeran. 

Perjalanan dilanjutkan setelah membeli amnunisi untuk berbuka dan  Langgar Rawa Bunder tempat dimana Guru Mughni di makamkan. Melewati jalan kecil perkampungan, masih ada jejak rumah Betawi tempo dulu yang nyempil, namun masih terawat dengan baik, saya pun sempat mengabadikannya lewat layar ponsel. Tak berapa lama kami semua tiba di makam.

Rumah Betawai Tempoe Doeloe
Foto : Ika Soewadji
Makam Guru Mughni
Foto : Kang Ali Zaenal
Foto Bersama Ngojak di Langgar Rawa Bunder Kuningan Jakarta
Foto : Kang Ali Zaenal
Dalam buku sejarah Betawi yang ditulis Ridwan Sardi, Guru Mughni merupakan ulama Batawi generasi kelima bersama Guru Marzuki di Jatinegara, Guru Madjid di Pekojan, Guru Mansur di Jembatan Lima, Guru Mahali di Kebayoran, Habib Utsman di Petamburan dan Habib Ali di Kwitang. Dari setiap perjalanan bersama Ngojak banyak hal yang saya pelajari termasuk ketika berkunjung ke makam K.H Abdul Mughni di kawasan megah ini, terpetik "Bagi kami, tidak hanya bersifat mendoakan, tapi juga meneladani yang baik dari hidup almarhum". 

Novi dan Mas Bimo
Adu kompor Trangia, kompor Gas dan kompor karya Mas Bimo
Foto : Ika Soewadji
Adu Kompor
Foto : Ika Soewadji
Ngariung sharing bersama Ngojak
Foto : Mbak Rahmah
Selepas mendoakan, kami semua berkumpul di halaman langgar untuk siap-siap berbuka dan sholat magrib. Ada yang sibuk membuat kopi dan teh, itulah ciri khas Ngojak "kebersamaan". Sesi terakhir yang paling saya tunggu di Ngojak adalah sharing dari masing-masing yang ikut acara hari ini, seru pokoknya dan ada penyerahan hadiah kebetulan saya yang dapat hadiah buku "Batik Eksistensi untuk Tradisi" karya Komarudin Kudiya, M.DS. Terima kasih Ngojak dan rekan-rekan yang saling berbagi bersama diacara "Kampung Kuningan (Jejak Islam di Segitiga Emas)". 





Rabu, 31 Mei 2017

#TimeTravel Perjalanan Sebagai Titik Balik Kehidupan

Berawal dari masa kecil, sekitar tahun 1992 ketika Bapak memutuskan memindahkan sekolah saya dari Bogor ke Jakarta. Tidak tinggal dengan orang tua kandung melatih mandiri diusia dini, iyaa tinggal di rumah Pakde tentu beda aturan dengan orang tua sendiri. Ada aturan-aturan yang harus saya jalanani dari bangun tidur, mandi, berangkat sekolah, pulang sekolah harus melakukan apa saja, seperti mengerjakan PR, sore hari mengaji dan selepas mengaji. Saya rajin membaca koran-koran langganan Pakde, ada Kompas dan sore hari Suara Pembaruan serta setiap minggu ada majalah Intisari, majalahnya kecil seperti buku komik, namun dari majalah itulah kemudian terinspirasi dari tokoh Harris Otto Kamil Tanzil atau biasa disingkat “H.O.K Tanzil”.
Keindahan Maurole
Membaca perjalanan-perjalanan H.O.K Tanzil dimasa itu, membuat saya berimajinasi suatu waktu bisa menjelajah seperti kisah yang saya baca. Hingga bercita - cita kelak sudah besar ingin mengikuti jejaknya. Tidak dipungkiri kehidupan sekarang pun tak luput peran Bapak saya sendiri yang selalu menginspirasi, beliau sering mengajak jalan-jalan dengan motor trailnya, jika libur diakhir pekan seperti ke Cibodas atau melihat kebun-kebun teh di Cipanas. Tidak hanya di Bogor, jika pulang ke Nganjuk mengunjungi Mbah. Bapak juga selalu mengajak jalan-jalan denganM mengendarai motor ke air terjun Sedudo atau mengunjungi sanak keluarga yang tinggal di wilayah lain seperti Trenggalek, Blitar, Malang, Kediri dan tempat lainnya.
Balik lagi ke perjalanan sebelumnya, tinggal di kawasan pegunungan membuat hidup terbiasa sederhana, karena untuk menuju sekolah saja harus berjalan kaki lebih kurang 4 Km setiap harinya, kadang Bapak menjemput dengan motor trailnya maklum jalanan dari rumah menuju sekolah tidaklah bagus melewati jalur bebatuan dan sungai. Hingga akhirnya Bapak memutuskan untuk menitipkan saya di rumah Pakde untuk bersekolah di SD Khatolik Santa Maria Immaculata. Tidak hidup dengan orang tua sendiri awalnya membuat saya sedih karena jauh dari kedua orang tua, awalnya suka nangis, tapi ini adalah titik proses perjalanan yang harus saya jalani, kalau nasehat Bapak lewat telepon adalah kamu harus dapat pendidikan yang baik agar cita-cita kamu bisa berkeliling Indonesia dan Dunia tercapai. Kalimat itu yang selalu teringat dari Bapak.
Nasehat dan support kedua orang tualah yang bisa membentuk saya dimasa sekarang, dimana saya selalu mendapat izin untuk naik gunung, bepergian solotraveling kemanapun. Hingga perjalanan suatu hari tanpa rencana bersama Pras menuju Bali dengan tiket promo sebuah maskapai, lalu berlanjut ke Labuan Bajo. Saya dan Pras terbiasa melakukan perjalanan tanpa itinerary semua mengalir bak air, berawal dari duduk-duduk di dermaga Labuan Bajo sambil mencari informasi kapal berlabuh, hingga mendapat tumpangan kapal pengangkut kebutuhan pokok KM. Nuansa Abadi R. 20 dari Calabai tujuan akhir Maumere hampir 27 Jam melewati Reo – Maurole – Palue – Maumere, membuat perjalanan sangat menyenangkan, berkumpul dengan sesama penumpang dari berbagai tempat mengajarkan saya akan makna kearifan lokal, menghargai perbedaan serta bersikap ramah ke siapapun.Di atas KM. Nuansa Abadi saya dan Pras berbincang dengan warga lokal, aktivitas yang kita lakukan melihat video-video karya rekan sesama pejalan lalu melihat bersama-sama foto karya Pras diperjalanan sebelumnya. Jarak tempuh dari dari Labuan Bajo menuju Maumere memang memakan waktu yang panjang namun saya dan Pras tidak mengalami rasa bosan, sambil memasak, membaca buku hingga kapal singgah para penumpang dipersilahkan untuk turun sekedar membeli makanan dan bisa explore tempat sekitar. Ada hal yang saya baru ketahui ketika menginjakkan kaki di Pelabuhan Reo. Pelabuhan ini merupakan salah satu pelabuhan penting untuk melayani masyarakat sekitar namun beberapa wilayah lainnya juga seperti Ruteng, Borong Manggarai Timur.


Hingga setelah melewati Reo perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Palue, butuh waktu sekitar lebih kurang 10 jam perjalanan untuk tiba di pulau cantik ini. Pulau cantik yang belum lama terkena musibah meletusnya Gunung Rokatenda ini tetap memiliki keindahan tersendiri pasca letusan. Gunung yang timbul dari permukaan dasar laut Flores ini memiliki ketinggian 875 mdpl. Pulau Palue dalam bahasa lokal berarti "Mari Pulang".




Perjalanan demi perjalanan membuat saya ingin memperluas langkah dan wawasan dengan mendatangi berbagai tempat ditanah air bahkan luar negeri. Banyak hal yang saya dapati, untuk melangkah lebih jauh lagi. Perjalanan yang menjadi impian dimasa mendatang bagi saya adalah menjelajahi tanah Papua, dan kenapa saya harus kesana??, karena saya ingin sekali belajar tentang keanekaragaman suku, bahasa, kebudayaan, karya seni, sejarah dan terpenting ingin berbagi serta turun tangan langsung membantu adik-adik di Papua untuk belajar bersama sebagai wujud menunaikan janji kemerdekaan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Perjalanan yang saya lalui ini, sebagai titik balik kehidupan untuk berbagi kepada sesama, menghargai dan mensyukuri karunia Allah SWT. 


Selasa, 18 April 2017

Harmonisasi Kesenian Tari Topeng Lengger

Mendengar nama Dieng pasti sudah tidak asing bagi para pengiat wisata. Dieng sendiri terbagi menjadi dua (2) Dieng Kulon yang masuk Kabupaten Banjarnegara sedangkan, Dieng Wetan masuk Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.  Saat itu, cuaca Dieng memang sedang ekstrem (dingin sekali), banyak buliran es tampak didaun-daun tanaman saat pagi, sedangkan jika siang cuaca panas membakar kulit. Bahkan para petani kentang banyak yang merugi karena cuaca tersebut.

Kompleks Candi Arjuna

Eko dan Topeng Lengger

Ibu Menyiapkan  Minuman Sesaji

Kebetulan saya tinggal di rumah keluarga Pak Slamet yang tak lain ayahnya Eko, sahabat di Dieng. Saya tinggal disana layaknya keluarga sendiri, bahkan saya dengan Ibunya Eko sudah diajak keliling Dieng Wetan dan Kulon untuk bersilahtuhrahmi dengan keluarganya. Keluarga Pak Slamet merupakan keluarga besar penari  topeng lengger, dan keluarga inti Pak Slamet sendiri adalah penari lengger.

Oh yaa, pagi hari sebelum perayaan puncak Dieng Culture Festival, saya menemani Ibu untuk mengambil bunga-bunga untuk sesaji nanti malam, seperti : mawar, kantil, kenanga, daun sirih dan lain - lainnya di halaman rumah Bude di atas. Karena Eko akan melakukan pementasan tari lengger nanti malam, di Kompleks Candi Arjuna. 

Pak Muji menyiapkan Topeng-topeng lengger

Menyiapkan sesaji

Sesaji

Kumpulan sesaji dan kelapa muda

Setelah itu, membantu menyiapkan topeng-topeng, gelas-gelas yang akan dipakai untuk membuat berbagai minuman sesaji saat pementasan. Selepas Magrib, saya menuju kompleks Candi Arjuna, sudah pasti udara di luar sangat dingin, tangan ini bergetar ketika mengambil gambar dan tripod pun tidak berfungsi karena ramainya pengunjung yang akan menyaksikan tari topeng lengger.

Keramaian pengunjung

Pak Mujiono kerabat Eko, tinggal di Dieng Kulon, bersama Paguyuban Kesenian Tari Sri Widodo, sibuk mempersiapkan pementasan mulai dari mempersiapkan topeng-topeng, sesaji (berupa daun sirih, mawar, kantil, bangkuang, kelapa muda, jambu, makanan dan lain-lainnya) dan beberapa gelas minuman. Beginilah persiapan tari topeng lengger sebelum pementasan, sudah biasa dilakukan dari dulu hingga kini tidak berubah. 

Sebelum pementasan Pak Mujiono ditunjuk sebagai pemimpin, dukun, penari dan pelestari seni tari topeng lengger. Asal muasal tarian ini berawal dari Kerajaan Kediri dibawah pemerintahan Prabu Brawijaya, ketika  itu Raja Brawijaya yang kehilangan putrinya, Dewi Sekartaji, mengadakan sayembara untuk memberikan penghargaan bagi siapa pun yang bisa menemukan sang putri.

Bila pria yang menemukan akan dijadikan suami sang putri, dan jika wanita maka akan dijadikan saudara. Sayembara yang dikuti oleh banyak ksatria ini akhirnya tinggal menyisakan dua peserta yaitu Raden Panji Asmoro Bangun yang menyamar dengan nama Joko Kembang Kuning dari Kerajaan Jenggala. Satu lagi, Prabu Klono dari Kerajaan Sebrang, merupakan orang yang menyebabkan sang putri kabur karena sang raja menjodohkannya. 

Gamelan sebagai pengering tari topeng lengger


Dalam pencarian tersebut, Joko Kembang Kuning yang disertai pengawalnya menyamar sebagai penari keliling yang berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain. Lakon penarinya adalah seorang pria yang memakai topeng dan berpakaian wanita dengan diiringi alat musik seadanya. Ternyata dalam setiap pementasannya tari ini mendapat sambutan yang meriah. Sehingga dinamai Lengger, yang berasal dari kata ledek (penari) dan ger atau geger (ramai atau gempar). Hingga di suatu desa, tari topeng lengger ini berhasil menarik perhatian Putri Dewi Sekartaji dari persembunyiannya. 

Namun pada saat yang bersamaan Prabu Klono juga telah mengetahui keberadaan Sang Putri, mengutus kakaknya Retno Tenggaron yang disertai prajurit wanita untuk melamar Dewi Sekartaji. Namun lamaran itu ditolak Dewi sehingga terjadilah perkelahian dan Retno Tenggaron yang dimenangi Sang Putri. Sementara Prabu Klono dan Joko Kembang Kuning tetap menuntut haknya pada raja. Hingga akhirnya raja memutuskan agar kedua kontestan itu untuk bertarung. Dalam pertarungan, Joko Kembang Kuning yang diwakili oleh Ksatria Tawang Alun berhasil menewaskan Prabu Klono. Di akhir kisah Joko Kembang Kuning dan Dewi Sekartaji menikah dengan pestanya disemarakkan dengan hiburan tari topeng lengger. Lengger yang pada zaman Kerajaan Hindu Brawijaya merupakan Ledek Geger (penari yang mengundang keramaian).

Diiringi tembang Jawa

Pak Muji

Tari topeng lengger yang berasal dari kata “elinga ngger” artinya ingatlah nak. Lengger tersebut bermakna petuah atau nasehat agar kita selalu ingat kepada Tuhan yang Maha Esa, dan selalu berbuat baik kepada semua orang.


Pementasan tari topeng lengger diiringi musik tradisional gamelan, ditarikan oleh sekelompok penari terdiri dari pria dan wanita mengenakan pakaian tradisional berupa Ebeg, Jarit (kain khas Jawa) sepaha, Sumping di kepalanya. Sementara sang wanita mengenakan jarit hingga mata kaki, selendang, kemben, serta mahkota. Kedua penari mengunakan topeng sesuai karakter yang mengambarkan tokoh - tokoh yang ditarikan.

Pemain Gamelan

Topeng-topeng lengger

Penari Wanita

Penari Wanita

Sedangkan yang unik dari legenda tarian ini adalah ketika penari mengalami mendhem atau kerasukan, dimana penari seakan berada dalam kondisi diluar sadar dan mulai bertingkah aneh seperti meniru gerakan monyet atau harimau, makan pecahan kaca, menginjak bara api, mengupas kelapa dengan gigi, serta aksi kekebalan lainnya tanpa mengalami rasa sakit. 

Penari Wanita

Eko dan Topeng Lengger

Mendhem atau kerasukan

Demikian cerita sedikit tentang kesenian tradisional tari topeng lengger yang merupakan harmonisasi di kehidupan masyarakat Dieng, yang masih dipertahankan hingga kini. Dimana era kemajuan yang semakin mengikis kesenian tradisional. Tari topeng lengger ini wajib dilestarikan karena merupakan sebuah karya seni yang berasal dari Jawa Tengah, mari kita sama - sama menjaganya. Terima kasih untuk Keluarga Eko, Pak Mujiono dan Paguyuban Kesenian Tari Lengger Sri Widodo yang memberi banyak informasi tentang kesenian ini, serta semoga tulisan ini bermanfaat. 


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Legenda pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselengarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.