Selasa, 20 Juni 2017

Kampung Kuningan sebagai Peradaban Jejak Islam Jakarta


Siang hari yang terik terlihat dilayar handphone suhu Jakarta mencapai 33 derajat celcius, dengan ojek online saya menuju Museum Satria Mandala, Gatot Subroto sebagai meeting point Ngojak dan jam 14.00 wib sebagai jam kumpul. Ketika datang hanya saya dan Mas Pams saja sementara yang lain belum ada. Sambil menunggu kita pun mengambil gambar museum, yang menurut Mas Pams kesini 30 tahun yang lalu ketika masih balita, kebayang dunk udah lama banget hehe...:D
Penampakan Museum Satria Mandala
Foto : Ika Soewadji
Setelah berkumpul semua Mas Fiyan membuka Ngojak hari ini, diawali perkenalan masing-masing dan mulai penjelajahan di kawasan segitiga emas Jakarta, bersama Bang Reyhan sebagai narasumber, mari kita mulai sahabat pejalan. 

Mas Fiyan membuka acara Ngojak
Foto : Kang Ali Zaenal

Rekan-rekan Ngojak
Foto : Kang Ali Zaenal
Taukah kalian diantara gedung pencakar langit Mega Kuningan dan Gatot Subroto, menceritakan sebuah kisah masa lalu yang epiiik, "kenapa bernama Kuningan? dan kenapa saya bilang epiiik? ini jawabannya.."

Sabtu, 17-06-2017 saya mendapat semua jawaban. Ada masjid yang berada di dalam Museum Satria Mandala yang dibangun pada tahun 1527 bernama Masjid Al-Mubarok, masjid ini didirikan oleh Adipati Awangga atau Pangeran Kuningan. 

Penanda Masjid Al-Mubarok
Foto : Ika Soewadji
Dalam Masjid Al-Mubarok
Foto : Ika Soewadji
Ketika berdiam diri selepas sholat Ashar, saya seperti merasakan aura masa lampau bagaimana jejak Islam di kampung ini. Pada tanggal 22 Juni 1527 Pangeran Kuningan mengusir pasukan Portugis dari Indonesia di Sunda Kelapa bersama Falatehan, Adipati Keling dan Pangeran Cakrabuana. Kemenangan pasukan Demak Cirebon dengan keempat pasukan mengusir Portugis pada masa itu diproklamirkan sebagai hari jadi Jakarta. 

Ornamen Pintu dan Jendela Masjid Al-Mubarok
Foto : Ika Soewadji
Masjid Al-Mubarok ini merupakan masjid tertua di Jakarta, serta disinilah Pangeran Kuningan mendidik murid-muridnya menyiarkan agama Islam. Pangeran Kuningan juga dianggap sebagai proklamator Jayakarta pada masa itu, dalam hal ini beliau sebagai pendiri kota Jakarta yang kini menjadi tempat tinggal saya. Hal seperti inilah yang tidak banyak diketahui banyak orang, karena saat belajar sejarah di sekolah tidak ada cerita ini. Beliau juga merupakan penyebar agama Islam di Nusantara ini tak kalah dengan Wali Songo.

Bang Reyhan disalah satu makam
di kawasan Masjid Al-Mubarok
Selepas melihat Masjid Al Mubarok saya dan rekan-rekan  Ngopi (di) Jakarta atau Ngojak melanjutkan perjalanan menuju makam Pangeran Kuningan, yang berada tepat di Gedung Telkom Gatot Subroto. Pertama dapat info dari Mas Fiyan, "nanti jangan kaget yang lihat makamnya". Benar saja begitu sampai saya, izin ke pihak keamanan untuk melihat makam "Ada jawaban dari seorang satpam yang mengatakan, silahkan saya senang jika ada yang ziarah". Hmmmm...Saya lalu diantar seorang satpam, sambil melihat-lihat karena lokasinya membuat #miris berada dipojokan anak tangga gedung mewah tersimpan makam pejuang Jakarta pada masa itu, ditemani sisa-sisa puing bangunan dan sampah-sampah mengingat gedung dalam tahap renovasi. Saya haturkan doa dengan Al-Fatihah agar beliau selalu dilapangkan dalam kuburnya, amin YRA. 

Makam Pangeran Kuningan
Foto : Ika Soewadji
Kondisi Makam Pangeran Kuningan saat ini
Foto : Ika Soewadji
Bergabung dengan Ngojak membuat saya makin mencintai Jakarta dari sudut apapun, jika kita menelisik lebih dalam. Perjalanan masih dilanjut menapaki jejak peradaban Islam di kawasan segitiga emas Jakarta. Menikmati Jakarta sore hari sambil belajar itu memang punya kenikmatan tersendiri, apalagi disaat bulan Ramadhan. Sambil menanti buka puasa atau istilahnya #ngabuburit, memandang langit dan gedung pencakar langit, terlihat Masjid Baitul Mughni yang megah ditepian jalan Gatot Subroto. 

Kemegahan Masjid Baitul Mughni
Foto : Ika Soewadji
Begitu tiba di pelataran Masjid Baitul Mughni Mas Fiyan dan Bang Reyhan mulai menceritakan tentang masjid megah ini. Masjid Baitul Mughni merupakan wakaf dari Guru Mughni, ulama kondang Betawi sekitar tahun 1940-an. Dikalangan Betawi, ulama yang mengajarkan agama disebut sebagai guru. 

Masjid Baitul Mughni menempati area sekitar 6000-an meter persegi terdiri dari gedung Sekolah Islam Al-Mughni, Pusat Kajian Hadis, dan Al-Mughni Islamic Center. Abdul Mughni bin H. Sanusi bin Ayub bin Qoys atau yang lebih dikenal dengan Guru Mughni, lahir di Kuningan Jakarta, sekitar 1860 dari pasangan H. Sanusi bin Ayub dan Hj. Da'iyah binti Jeran. 

Perjalanan dilanjutkan setelah membeli amnunisi untuk berbuka dan  Langgar Rawa Bunder tempat dimana Guru Mughni di makamkan. Melewati jalan kecil perkampungan, masih ada jejak rumah Betawi tempo dulu yang nyempil, namun masih terawat dengan baik, saya pun sempat mengabadikannya lewat layar ponsel. Tak berapa lama kami semua tiba di makam.

Rumah Betawai Tempoe Doeloe
Foto : Ika Soewadji
Makam Guru Mughni
Foto : Kang Ali Zaenal
Foto Bersama Ngojak di Langgar Rawa Bunder Kuningan Jakarta
Foto : Kang Ali Zaenal
Dalam buku sejarah Betawi yang ditulis Ridwan Sardi, Guru Mughni merupakan ulama Batawi generasi kelima bersama Guru Marzuki di Jatinegara, Guru Madjid di Pekojan, Guru Mansur di Jembatan Lima, Guru Mahali di Kebayoran, Habib Utsman di Petamburan dan Habib Ali di Kwitang. Dari setiap perjalanan bersama Ngojak banyak hal yang saya pelajari termasuk ketika berkunjung ke makam K.H Abdul Mughni di kawasan megah ini, terpetik "Bagi kami, tidak hanya bersifat mendoakan, tapi juga meneladani yang baik dari hidup almarhum". 

Novi dan Mas Bimo
Adu kompor Trangia, kompor Gas dan kompor karya Mas Bimo
Foto : Ika Soewadji
Adu Kompor
Foto : Ika Soewadji
Ngariung sharing bersama Ngojak
Foto : Mbak Rahmah
Selepas mendoakan, kami semua berkumpul di halaman langgar untuk siap-siap berbuka dan sholat magrib. Ada yang sibuk membuat kopi dan teh, itulah ciri khas Ngojak "kebersamaan". Sesi terakhir yang paling saya tunggu di Ngojak adalah sharing dari masing-masing yang ikut acara hari ini, seru pokoknya dan ada penyerahan hadiah kebetulan saya yang dapat hadiah buku "Batik Eksistensi untuk Tradisi" karya Komarudin Kudiya, M.DS. Terima kasih Ngojak dan rekan-rekan yang saling berbagi bersama diacara "Kampung Kuningan (Jejak Islam di Segitiga Emas)". 





Rabu, 31 Mei 2017

#TimeTravel Perjalanan Sebagai Titik Balik Kehidupan

Berawal dari masa kecil, sekitar tahun 1992 ketika Bapak memutuskan memindahkan sekolah saya dari Bogor ke Jakarta. Tidak tinggal dengan orang tua kandung melatih mandiri diusia dini, iyaa tinggal di rumah Pakde tentu beda aturan dengan orang tua sendiri. Ada aturan-aturan yang harus saya jalanani dari bangun tidur, mandi, berangkat sekolah, pulang sekolah harus melakukan apa saja, seperti mengerjakan PR, sore hari mengaji dan selepas mengaji. Saya rajin membaca koran-koran langganan Pakde, ada Kompas dan sore hari Suara Pembaruan serta setiap minggu ada majalah Intisari, majalahnya kecil seperti buku komik, namun dari majalah itulah kemudian terinspirasi dari tokoh Harris Otto Kamil Tanzil atau biasa disingkat “H.O.K Tanzil”.
Keindahan Maurole
Membaca perjalanan-perjalanan H.O.K Tanzil dimasa itu, membuat saya berimajinasi suatu waktu bisa menjelajah seperti kisah yang saya baca. Hingga bercita - cita kelak sudah besar ingin mengikuti jejaknya. Tidak dipungkiri kehidupan sekarang pun tak luput peran Bapak saya sendiri yang selalu menginspirasi, beliau sering mengajak jalan-jalan dengan motor trailnya, jika libur diakhir pekan seperti ke Cibodas atau melihat kebun-kebun teh di Cipanas. Tidak hanya di Bogor, jika pulang ke Nganjuk mengunjungi Mbah. Bapak juga selalu mengajak jalan-jalan denganM mengendarai motor ke air terjun Sedudo atau mengunjungi sanak keluarga yang tinggal di wilayah lain seperti Trenggalek, Blitar, Malang, Kediri dan tempat lainnya.
Balik lagi ke perjalanan sebelumnya, tinggal di kawasan pegunungan membuat hidup terbiasa sederhana, karena untuk menuju sekolah saja harus berjalan kaki lebih kurang 4 Km setiap harinya, kadang Bapak menjemput dengan motor trailnya maklum jalanan dari rumah menuju sekolah tidaklah bagus melewati jalur bebatuan dan sungai. Hingga akhirnya Bapak memutuskan untuk menitipkan saya di rumah Pakde untuk bersekolah di SD Khatolik Santa Maria Immaculata. Tidak hidup dengan orang tua sendiri awalnya membuat saya sedih karena jauh dari kedua orang tua, awalnya suka nangis, tapi ini adalah titik proses perjalanan yang harus saya jalani, kalau nasehat Bapak lewat telepon adalah kamu harus dapat pendidikan yang baik agar cita-cita kamu bisa berkeliling Indonesia dan Dunia tercapai. Kalimat itu yang selalu teringat dari Bapak.
Nasehat dan support kedua orang tualah yang bisa membentuk saya dimasa sekarang, dimana saya selalu mendapat izin untuk naik gunung, bepergian solotraveling kemanapun. Hingga perjalanan suatu hari tanpa rencana bersama Pras menuju Bali dengan tiket promo sebuah maskapai, lalu berlanjut ke Labuan Bajo. Saya dan Pras terbiasa melakukan perjalanan tanpa itinerary semua mengalir bak air, berawal dari duduk-duduk di dermaga Labuan Bajo sambil mencari informasi kapal berlabuh, hingga mendapat tumpangan kapal pengangkut kebutuhan pokok KM. Nuansa Abadi R. 20 dari Calabai tujuan akhir Maumere hampir 27 Jam melewati Reo – Maurole – Palue – Maumere, membuat perjalanan sangat menyenangkan, berkumpul dengan sesama penumpang dari berbagai tempat mengajarkan saya akan makna kearifan lokal, menghargai perbedaan serta bersikap ramah ke siapapun.Di atas KM. Nuansa Abadi saya dan Pras berbincang dengan warga lokal, aktivitas yang kita lakukan melihat video-video karya rekan sesama pejalan lalu melihat bersama-sama foto karya Pras diperjalanan sebelumnya. Jarak tempuh dari dari Labuan Bajo menuju Maumere memang memakan waktu yang panjang namun saya dan Pras tidak mengalami rasa bosan, sambil memasak, membaca buku hingga kapal singgah para penumpang dipersilahkan untuk turun sekedar membeli makanan dan bisa explore tempat sekitar. Ada hal yang saya baru ketahui ketika menginjakkan kaki di Pelabuhan Reo. Pelabuhan ini merupakan salah satu pelabuhan penting untuk melayani masyarakat sekitar namun beberapa wilayah lainnya juga seperti Ruteng, Borong Manggarai Timur.


Hingga setelah melewati Reo perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Palue, butuh waktu sekitar lebih kurang 10 jam perjalanan untuk tiba di pulau cantik ini. Pulau cantik yang belum lama terkena musibah meletusnya Gunung Rokatenda ini tetap memiliki keindahan tersendiri pasca letusan. Gunung yang timbul dari permukaan dasar laut Flores ini memiliki ketinggian 875 mdpl. Pulau Palue dalam bahasa lokal berarti "Mari Pulang".




Perjalanan demi perjalanan membuat saya ingin memperluas langkah dan wawasan dengan mendatangi berbagai tempat ditanah air bahkan luar negeri. Banyak hal yang saya dapati, untuk melangkah lebih jauh lagi. Perjalanan yang menjadi impian dimasa mendatang bagi saya adalah menjelajahi tanah Papua, dan kenapa saya harus kesana??, karena saya ingin sekali belajar tentang keanekaragaman suku, bahasa, kebudayaan, karya seni, sejarah dan terpenting ingin berbagi serta turun tangan langsung membantu adik-adik di Papua untuk belajar bersama sebagai wujud menunaikan janji kemerdekaan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Perjalanan yang saya lalui ini, sebagai titik balik kehidupan untuk berbagi kepada sesama, menghargai dan mensyukuri karunia Allah SWT. 


Selasa, 18 April 2017

Harmonisasi Kesenian Tari Topeng Lengger

Mendengar nama Dieng pasti sudah tidak asing bagi para pengiat wisata. Dieng sendiri terbagi menjadi dua (2) Dieng Kulon yang masuk Kabupaten Banjarnegara sedangkan, Dieng Wetan masuk Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.  Saat itu, cuaca Dieng memang sedang ekstrem (dingin sekali), banyak buliran es tampak didaun-daun tanaman saat pagi, sedangkan jika siang cuaca panas membakar kulit. Bahkan para petani kentang banyak yang merugi karena cuaca tersebut.

Kompleks Candi Arjuna

Eko dan Topeng Lengger

Ibu Menyiapkan  Minuman Sesaji

Kebetulan saya tinggal di rumah keluarga Pak Slamet yang tak lain ayahnya Eko, sahabat di Dieng. Saya tinggal disana layaknya keluarga sendiri, bahkan saya dengan Ibunya Eko sudah diajak keliling Dieng Wetan dan Kulon untuk bersilahtuhrahmi dengan keluarganya. Keluarga Pak Slamet merupakan keluarga besar penari  topeng lengger, dan keluarga inti Pak Slamet sendiri adalah penari lengger.

Oh yaa, pagi hari sebelum perayaan puncak Dieng Culture Festival, saya menemani Ibu untuk mengambil bunga-bunga untuk sesaji nanti malam, seperti : mawar, kantil, kenanga, daun sirih dan lain - lainnya di halaman rumah Bude di atas. Karena Eko akan melakukan pementasan tari lengger nanti malam, di Kompleks Candi Arjuna. 

Pak Muji menyiapkan Topeng-topeng lengger

Menyiapkan sesaji

Sesaji

Kumpulan sesaji dan kelapa muda

Setelah itu, membantu menyiapkan topeng-topeng, gelas-gelas yang akan dipakai untuk membuat berbagai minuman sesaji saat pementasan. Selepas Magrib, saya menuju kompleks Candi Arjuna, sudah pasti udara di luar sangat dingin, tangan ini bergetar ketika mengambil gambar dan tripod pun tidak berfungsi karena ramainya pengunjung yang akan menyaksikan tari topeng lengger.

Keramaian pengunjung

Pak Mujiono kerabat Eko, tinggal di Dieng Kulon, bersama Paguyuban Kesenian Tari Sri Widodo, sibuk mempersiapkan pementasan mulai dari mempersiapkan topeng-topeng, sesaji (berupa daun sirih, mawar, kantil, bangkuang, kelapa muda, jambu, makanan dan lain-lainnya) dan beberapa gelas minuman. Beginilah persiapan tari topeng lengger sebelum pementasan, sudah biasa dilakukan dari dulu hingga kini tidak berubah. 

Sebelum pementasan Pak Mujiono ditunjuk sebagai pemimpin, dukun, penari dan pelestari seni tari topeng lengger. Asal muasal tarian ini berawal dari Kerajaan Kediri dibawah pemerintahan Prabu Brawijaya, ketika  itu Raja Brawijaya yang kehilangan putrinya, Dewi Sekartaji, mengadakan sayembara untuk memberikan penghargaan bagi siapa pun yang bisa menemukan sang putri.

Bila pria yang menemukan akan dijadikan suami sang putri, dan jika wanita maka akan dijadikan saudara. Sayembara yang dikuti oleh banyak ksatria ini akhirnya tinggal menyisakan dua peserta yaitu Raden Panji Asmoro Bangun yang menyamar dengan nama Joko Kembang Kuning dari Kerajaan Jenggala. Satu lagi, Prabu Klono dari Kerajaan Sebrang, merupakan orang yang menyebabkan sang putri kabur karena sang raja menjodohkannya. 

Gamelan sebagai pengering tari topeng lengger


Dalam pencarian tersebut, Joko Kembang Kuning yang disertai pengawalnya menyamar sebagai penari keliling yang berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain. Lakon penarinya adalah seorang pria yang memakai topeng dan berpakaian wanita dengan diiringi alat musik seadanya. Ternyata dalam setiap pementasannya tari ini mendapat sambutan yang meriah. Sehingga dinamai Lengger, yang berasal dari kata ledek (penari) dan ger atau geger (ramai atau gempar). Hingga di suatu desa, tari topeng lengger ini berhasil menarik perhatian Putri Dewi Sekartaji dari persembunyiannya. 

Namun pada saat yang bersamaan Prabu Klono juga telah mengetahui keberadaan Sang Putri, mengutus kakaknya Retno Tenggaron yang disertai prajurit wanita untuk melamar Dewi Sekartaji. Namun lamaran itu ditolak Dewi sehingga terjadilah perkelahian dan Retno Tenggaron yang dimenangi Sang Putri. Sementara Prabu Klono dan Joko Kembang Kuning tetap menuntut haknya pada raja. Hingga akhirnya raja memutuskan agar kedua kontestan itu untuk bertarung. Dalam pertarungan, Joko Kembang Kuning yang diwakili oleh Ksatria Tawang Alun berhasil menewaskan Prabu Klono. Di akhir kisah Joko Kembang Kuning dan Dewi Sekartaji menikah dengan pestanya disemarakkan dengan hiburan tari topeng lengger. Lengger yang pada zaman Kerajaan Hindu Brawijaya merupakan Ledek Geger (penari yang mengundang keramaian).

Diiringi tembang Jawa

Pak Muji

Tari topeng lengger yang berasal dari kata “elinga ngger” artinya ingatlah nak. Lengger tersebut bermakna petuah atau nasehat agar kita selalu ingat kepada Tuhan yang Maha Esa, dan selalu berbuat baik kepada semua orang.


Pementasan tari topeng lengger diiringi musik tradisional gamelan, ditarikan oleh sekelompok penari terdiri dari pria dan wanita mengenakan pakaian tradisional berupa Ebeg, Jarit (kain khas Jawa) sepaha, Sumping di kepalanya. Sementara sang wanita mengenakan jarit hingga mata kaki, selendang, kemben, serta mahkota. Kedua penari mengunakan topeng sesuai karakter yang mengambarkan tokoh - tokoh yang ditarikan.

Pemain Gamelan

Topeng-topeng lengger

Penari Wanita

Penari Wanita

Sedangkan yang unik dari legenda tarian ini adalah ketika penari mengalami mendhem atau kerasukan, dimana penari seakan berada dalam kondisi diluar sadar dan mulai bertingkah aneh seperti meniru gerakan monyet atau harimau, makan pecahan kaca, menginjak bara api, mengupas kelapa dengan gigi, serta aksi kekebalan lainnya tanpa mengalami rasa sakit. 

Penari Wanita

Eko dan Topeng Lengger

Mendhem atau kerasukan

Demikian cerita sedikit tentang kesenian tradisional tari topeng lengger yang merupakan harmonisasi di kehidupan masyarakat Dieng, yang masih dipertahankan hingga kini. Dimana era kemajuan yang semakin mengikis kesenian tradisional. Tari topeng lengger ini wajib dilestarikan karena merupakan sebuah karya seni yang berasal dari Jawa Tengah, mari kita sama - sama menjaganya. Terima kasih untuk Keluarga Eko, Pak Mujiono dan Paguyuban Kesenian Tari Lengger Sri Widodo yang memberi banyak informasi tentang kesenian ini, serta semoga tulisan ini bermanfaat. 


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Legenda pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselengarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

Senin, 10 April 2017

Pawon Cokelat Guest House Unik di Malioboro

Assalamulaikum warahmatullah wabarakatuh...

Hallo Sahabat Pejalan...


Selepas makan malam di Bakmi Jowo Mbah Gito bersama Ibu Wiwik dan Ibu Ellie, tepat pukul 20.30 wib saya dan sepupu tiba di Pawon Cokelat Guest House untuk check in. Saya bertemu dengan Mas Ihsan resepsionis yang sangat ramah. Saya langsung melunasi sisa pembayaran, mendapat kwitansi dan kamar nomor 10 di lantai 2. Harga guest house ini tidak terlalu mahal jika weekend Rp. 370.000,-  dan weekday Rp. 320.000,-.

Gang Kecil depan Guest House Pawon Cokelat

Pawon Cokelat

Pintu Masuk Pawon Cokelat
Ruang resepsionisnya tidak terlalu luas, terdapat kursi hijau nan angun untuk diduduki, bangunan Pawon Cokelat pun sangat sederhana dengan tanaman-tanaman hijau yng bergelantungan membuat nilai lebih penginapan ini.

Sofa Hijau Ruang Resepsionis

Tanaman Merambat Ruang Resepsionis

Setelah check in dan mendapat kunci, saya dan sepupu langsung menuju kamar nomor 10 di lantai 2, kamar yang saya inapi memiliki balkon sendiri dengan kursi didepanya. Pawon Cokelat memiliki 10 kamar terdiri dari 3 lantai, lantai 3 paling atas terdapat rooftop untuk bersantai dan guest house ini selalu penuh di akhir pekan.


Anak Tangga Menuju Lantai 2

Anak Tangga Menuju Lantai 2

Kamar No. 9

Kamar saya lumayan luas dengan tempat tidur double bed, ada nakas, meja menjadi satu dengan lemari kecil serta kursi, televisi LED dengan channel lokal. Tempat tidur dan bantalnya empuk lengkap dengan selimut berwarna biru dan lantai semen terasa sejuk, pintu dan jendela terletak sejajar dengan hordeng berwarna putih, lengkap dengan wifi. 


Balkon Kamar No. 10

Tempat Jemuran Kamar No. 10

Kamar No. 10
Luas kamar mandi juga lumayan dengan closet duduk, shower, ember serta gayung, amnetiesnya sabun dan shampo serta tersedia handuk dan jemuran di depan kamar. Untuk penerangan kamar juga oke, terdapat lampu utama dan lampu tidur serta kamar dilengkapi dengan AC yang dingin.


Kamar mandi No. 10
Amnetiesnya Sabun dan Shampo

Setelah perjalanan yang panjang dari Jakarta, saya langsung mandi untuk menyegarkan badan, sementara sepupu bersantai dengan leyeh-leyeh di tempat tidur. Selepas mandi langsung menonton televisi dan tak terasa lelap tertidur hingga pagi hari.

Tempat Tidur 1

Tempat Tidur 2

Tempat Tidur 3
Bangun pukul 05.30 saya sempatkan untuk jalan-jalan sekitar guest house dan berbincang dengan Mas Ihsan yang sedang sibuk menyiram tanaman, menurutnya tanaman disekitar guest house harus disiram setiap hari. 

Ruang Sarapan

Untuk sarapan pagi di Pawon Cokelat, ada dua jenis ala bule dan lokal yaaa telur ommelet, lengkap dengan roti, dan sosis serta sarapan lokal adalah nasi goreng enaaak loh sarapannya :D Ruang sarapannya tidak begitu luas, namun amat cantik  untuk berfoto, disini juga tersedia kopi dan teh 24 jam yang bisa kamu buat sendiri.

Teh Panas

Ommelet

Nasi Goreng

Kamar-Kamar di Lantai 2

Kursi-Kursi di Lantai 2

Kursi-Kursi di Lantai 2

Kamar-Kamar di Lantai 1

Kalian yang menginap di Pawon Cokelat Wajib Foto disini,
Ini Foto sepupu saya

Lokasi Pawon Cokelat ini sangat strategis di jantung Malioboro tak jauh dari Stasiun Tugu Jogjakarta, jadi yaa mau kemana-mana terasa dekat hehehe :D.  Menuju guest house ini sangat mudah jika sudah ketemu Jalan Pasar Kembang ada gang pertama tertulis jalan Sosrowijayan Wetan Gang 1 langsung masuk aja lalu belok kiri lurus saja itu deh sudah sampai, mudah bukan..:D Jadi sahabat pejalan jika berkunjung ke Jogjakarta, jangan lupa untuk menginap disini yaa... :)

Foto-Foto Pawon Cokelat saya gunakan kamera handphone jadul : Sony Ericsson Xperia.


Pawon Cokelat Guest House :

Alamat : Jalan Sosrowijayan Wetan Gang 1 No. 102 Malioboro, Jogjakarta
Telp      : 0878 7880 9008 (Ibu Eki Rahmawati)
                 0274 2924232

IG : @pawoncokelat
pawoncokelat@gmail.com
www.pawoncokelat.com

Wassalamulaikum warahmatullah wabarakatuh...